BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Karya sastra
merupakan segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis.
karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan
komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya sastra
secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara
etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang
berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Menurut Kamus Istilah
Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat
oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Secara
sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur yaitu kata,
larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan
sebuah puisi.
Bait merupakan
kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan
makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah,
tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
Lagu
merupakan bagian dari jenis puisi. Lagu adalah kata-kata atau lirik yang disampaikan lewat harmoni
bunyi dan alunan nada yang indah. Menurut KKBI lagu merupakan ragam suara
yang berirama yang dapat diartikan bahwa lagu merupakan kumpulan kata yang
mempunyai nada serta alunan melodi yang diucapkan dan bahasa sebagai medianya
yang mempunyai arti sebagai penyair mudah untuk mengambil makna serta
mengekspresikannya. Lagu merupakan bagian dari karya sastra yang memiliki beragam
jenis, mulai dari lagu pop, religi sampai dengan lagu anak.
Lagu Anak-anak adalah lagu yang mempunyai Lirik, Syair
atau kata-kata yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak. Menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti oleh
anak-anak. Alasan digunakannya lagu anak-anak dalam penelitian ini karena Lagu
merupakan media pembelajaran yang efektif bagi anak dan terdapat banyak
pembelajaran yang bisa diambil dari lagu anak-anak.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fungsi
William R. Bascom. Menurut William R. Bascom (1965:3-20;
Dundes, 1965:290-294) sastra lisan (baca: folklore lisan dan sebagian lisan)
mempunyai empat fungsi, yaitu: (a) sebagai sebuah bentuk hiburan, (b) sebagai
alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (c) sebagai
alat pendidikan anak dan-anak, dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar
norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Dalam lagu anak-anak memiliki fungsi
hiburan dan pendidikan yang bisa digunakan oleh orang tua sebagai media
pembelajaran. Alasan inilah yang mendasari terbentuknya penelitian.
Ibu Sud menciptakan sebuah lagu dengan syair yang
sederhana namun memiliki makna yang mendalam bagi pembelajaran anak. Dengan
demikian, anak tidak hanya sekedar menirukan nyanyian tapi juga memahami
maknanya. Hal inilah yang menjadi alasan digunakannya lagu anak-anak karya Ibu
Sud dalam penelitian ini.
Saridjah Niung Bintang Soedibjo dikenal dengan nama Ibu Soed adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia.
Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman
Kanak-kanak Indonesia. Selepas mempelajari seni suara, seni musik dan belajar
menggesek biola hingga mahir dari ayah angkatnya, Saridjah melanjutkan
sekolahnya di Hoogere Kweek School (HKS) Bandung untuk memperdalam ilmunya di bidang seni suara dan musik. Setelah tamat, ia
kemudian mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Dari sinilah Saridjah mulai mengarang lagu. Pada tahun 1927, ia menjadi istri R. Bintang
Soedibjo dan ia pun dikenal
dengan panggilan Ibu Soed, singkatan dari Soedibjo.
Tujuan penelitian ini adalah agar orang tua dan guru
mengerti tentang fungsi lagu anak-anak yang efektif untuk media pembelajaran.
Penelitian ini bermanfaat bagi orang tua dan juga guru dalam memilih lagu
anak-anak yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi anak.
1.2 Rumusan
masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Bagaimana
fungsi hiburan dalam lagu anak karya ibu Sud?
2. Bagaimana
fungsi pendidikan dalam lagu anak karya ibu Sud?
3. Bagaimana
fungsi pengesahan pranata dan lembaga budaya dalam lagu anak karya ibu Sud?
4. Bagaimana
fungsi pengawas norma masyarakat dalam lagu anak karya ibu Sud?
1.3 Tujuan
penelitian
Adapun tujuan dari
penelitian ini ialah
1. Mendeskripsikan
fungsi hiburan dalam lagu anak karya ibu Sud.
2. Mendeskripsikan
fungsi pendidikan dalam lagu anak karya ibu Sud.
3. Mendeskripsikan
fungsi pengesahan pranata dan lembaga budaya dalam lagu anak karya ibu Sud.
4. Mendeskripsikan
fungsi pengawas norma masyarakat dalam lagu anak karya ibu Sud.
1.4 Manfaat
penelitian
Dari hasil
penelitian ini diharapkan dapat mempunyai beberapa manfaat bagi pihak-pihak
yang bersangkutan. Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat
teoritis
-
Hasil penelitian ini diharapkan
bermanfaat untuk kajian ilmu sastra.
-
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberi masukan bagi teori sastra.
2. Manfaat
praktis
-
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu
proses belajar mengajar khususnya bagi guru TK dan umumnya bagi guru bahasa
Indonesia.
-
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
berguna untuk penelitian yang lain serta dapat memusatkan perhatian pada fungsi
lagu anak.
1.5
Kajian Teori
1.5.1
Puisi
Karya sastra secara umum bisa dibedakan
menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal
dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk,
membuat, menciptakan. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi
merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta
penyusunan larik dan bait.
Sebuah
bentuk sastra disebut puisi jika di dalamnya terdapat pendayagunaan berbagai
unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah singkat dan
padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang lebih
banyak. Pendayagunaan unsur bahasa untuk memperoleh keindahan itu dapat dicapai
melalui permainan bunyi yang biasanya berupa berbagai bentuk perulangan untuk
memperoleh efek persajakan dan irama yang melodius. Selain itu, juga dimanfaatkan adanya berbagai
sarana retorika yang lain seperti pemilihan ketepatan kata, ungkapan,
pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Keterjalinan secara harmonis
di antara berbagai unsur kebahasaan tersebut merupakan cara memperoleh
keindahan dalam puisi. Untuk puisi anak, kesederhanaan bahasa haruslah tetap
menjadi perhatian tersendiri, dan kadang-kadang keindahan sebuah puisi justru
terletak pada kesederhanaannya. Jika dituliskan, puisi memiliki format yang
berbeda dengan prosa, dan yang utama adalah barisnya yang relatif
pendek-pendek. Format puisi adakalanya juga dipakai untuk memperoleh efek
keindahan secara visual.
Puisi
adalah sebuah genre kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa bahasa
puisi adalah bahasa yang “tersaring” penggunaannya. Artinya, pemilihan bahasa
terutama aspek diksi telah melewati seleksi ketat, dipertimbangkan dari
berbagai sisi baik yang menyangkut unsur bunyi, bentuk, dan makna yang
kesemuanya harus memenuhi persyaratan untuk memperoleh efek keindahan. Puisi
merupakan suatu bentuk ekspresi, deskripsi, protes, dan bahkan narasi tentang
persoalan kehidupan termasuk keadaan alam.
Menurut
pendapat watts-Dunton puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistic
dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Sedangkan Lescelles
Abercromble mengatakan puisi merupakan
ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif yang hanya bernilai serta
berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang
diutarakan dengan bahasa, yang memanfaatkan setiap rencana dengan matang dan
tepat guna.
A Richard
seorang kritikus sastra yang terkenal menyatakan bahwa suatu puisi mengandung
“makna keseluruhan” yang merupakan perpaduan dari tema penyair (mengenai inti
pokok puisi itu), persaannya (sikap penyair terhadap bahan atau obyeknya),
nadanya dan amanat (maksud atau tujuan penyair) (Morris [et al],
1964:617).Genre puisi anak dapat berwujud puisi-puisi lirik tembang-tembang
anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo, puisi naratif, dan puisi
personal. Puisi-puisi yang diucapkan atau dinyanyikan si ibu sewaktu akan
menidurkan anak, membujuk anak agar tidak rewel, atau membuat anak senang
adalah salah satu jenis dari puisi anak. Puisi atau tembang tersebut tidak
diketahui pengarangnya tetapi telah mentradisi dan mewaris secara
turun-temurun. Puisi-puisi tersebut sangat mengandalkan repetisi bunyi dan kata
untuk memperoleh efek keindahannya.
Unsur-unsur Puisi
Secara
sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur yaitu kata,
larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan
sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
1.
Kata adalah unsur utama terbentuknya
sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan
keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi
sebuah larik.
2.
Larik (atau baris) mempunyai pengertian
berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa
frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam
sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
3.
Bait merupakan kumpulan larik yang
tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi
lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi
baru tidak dibatasi.
4.
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama.
Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata
dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah,
panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh
perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya
rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian
keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek
kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk
irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama
inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi
menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
5.
Makna adalah unsur tujuan dari
pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan
dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
1.5.2
Lagu anak
Mitchell
(2003:147-48) membedakan puisi anak ke dalam puisi naratif, puisi lirik, puisi
dengan bentuk khusus, verse bebas, dan puisi konkret. Puisi lirik adalah puisi
yang menggambarkan suasana hati, jiwa, perasaan, dan pikiran.
Lagu
anak merupakan bagian dari karya satra yang berbentuk puisi. Lagu anak
digolongkan dalam bentuk puisi lirik. Puisi lirik adalah jenis puisi yang
paling banyak dijumpai baik dalam puisi anak maupun dewasa. Menurut Mitchell
(2003:148) puisi lirik adalah puisi yang membangkitkan emosi, perasaan, atau mood tertentu. Puisi lirik berwujud
lontaran jiwa, hati, perasaan, dan pikiran untuk menyikapi sesuatu yang telah
menjadi pengalaman emosional penulisnya.
Puisi
lirik merupakan puisi curahan jiwa. Lewat puisi lirik penulis berusaha
mengekspresikan kejiwaannya untuk berbagi rasa dan pengalaman kepada orang lain
agar orang lain dapat juga merasakan apa yang dirasakannya, memperoleh
pengalaman emosional sebagaimana yang dialaminya. Puisi lirik mampu
membangkitkan perasaan dan suasana tertentu, misalnya suasana kesyahduan, kesenduan,
keceriaan, kehangatan, kerinduan, kesedihan, ketidakberdayaan, dan lain-lain
yang biasa dialami oleh manusia.
Lagu adalah penyampaian
cerita dengan berbagai cara untuk mempengaruhi hati dan pikiran seseorang agar
setuju dan hanyut dalam cerita yang disampaikan. Penyampaian cerita tentang
perasaan, keadaan atau benda baik yang berwujud atau kasat mata dilakukan
dengan menggunakan nada -nada yang membentuk harmonisasi sebagai sarananya.
Tujuan dari lagu adalah untuk mempengaruhi seseorang.
Pembawa lagu harus dapat membuat lagu
yang dibuat atau dibawakannya dapat mempengaruhi hati dan pikiran seseorang,
sehingga orang tersebut tidak sadar telah hanyut dalam lagu tersebut. Lagu adalah kata-kata atau lirik yang
disampaikan lewat harmoni bunyi dan alunan nada yang indah .
Lagu Anak-anak adalah lagu yang mempunyai Lirik, Syair
atau kata-kata yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak. Menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti oleh
anak-anak. Ketika anak-anak menyanyikan sebuah Lagu harus mengerti apa arti
kata yang diucapkannya. Syair Lirik Lagu untuk anak-anak itu biasanya berkisar
tentang alam, Flora dan Fauna, cinta lingkungan, cinta sesame, cinta
Tuhannya dan tentang keluarga.
1.5.3
Teori Fungsi
Teori Fungsi
khususnya Fungsi Sastra menurut Wellek & Warren (1995: 24-25), dipelopori
oleh Edgar Allan Poe dan Horace, seorang pujangga Romawi, didukung oleh
Luxemburg (1991) dan Budi Darma (2004). Namun menurut Sudikan (2001:109),
Fungsi Sastra khususnya Sastra Lisan dipelopori oleh para ahli folklor, di
antaranya William R. Bascom (1965), Alan Dundes (1965), dan Ruth Finnegan
(1977). Masing-masing memiliki pandangan berbeda, karena landasan filosofis
dan daya analisis mereka juga berbeda.
Menurut William
R. Bascom (1965:3-20; Dundes, 1965:290-294) sastra lisan (baca: folklore lisan
dan sebagian lisan) mempunyai empat fungsi, yaitu: (a) sebagai sebuah bentuk
hiburan, (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga
kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan anak dan-anak, dan (d) sebagai alat
pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota
kolektifnya.
Menurut Alan
Dundes (1965, dalam Sudikan, 2001:109), beberapa fungsi sastra khususnya dalam
folklor bersifat umum, yaitu untuk: (1) membantu pendidikan (aiding in the
education), (2) meningkatkan perasaan solidaritas (promoting a feeling of
solidarity), (3) memberi sangsi sosial (providing socially sanctioned way ),
(4) memberi sarana kritik sosial (vehicle for social protest), (5) memberi suatu
pelarian yang menyenangkan (offering an enjoyable escape), (6) mengubah
pekerjaan membosankan menjadi permainan (converting dull work into
playing).
Sedangkan Ruth
Finnegan (1977, dalam Sudikan, 2001:114), menyatakan bahwa fungsi sastra khususnya
sastra lisan termasuk juga puisi lisan (oral poetry) adalah untuk: memperjuangkan
kelas (the class struggle).
Beberapa fungsi
sastra yang lain, antara lain adalah: (1) fungsi “katarsis” (catharsis) yang
disampaikan oleh Aristoteles (dalam Wellek & Warren, 1995: 35) melalui
karyanya The Poetics. Istilah katarsis dapat diartikan “pelepasan”,
“keterharuan”, maksudnya: membebaskan, meluapkan atau mengekspresikan tekanan
emosi pembaca atau penontonnya, (2) fungsi “propaganda” yang disampaikan
oleh Wellek & Warren (1995:33). Istilah propaganda dapat diartikan
“penyebaran doktrin”, artinya: segala macam usaha yang dilakukan secara sadar
atau tidak adalah mempengaruhi pembaca agar menerima sikap hidup tertentu.
Berdasarkan
berbagai pendapat tersebut di atas, dapatlah disimpulkan dan diuraikan bahwa
karya seni atau sastra dapat berfungsi antara lain sebagai:
1. Hiburan
Bagi seorang pengarang
(karya seni dan sastra), kegiatan mengarang dapat menjadi sarana hiburan atau
membebaskan diri dari tekanan emosi. Ribot (dalam Wellek & Warren
(1995:96) seorang psikolog Perancis menyebut pengarang demikian sebagai
sastrawan atau seniman diffluent yaitu memulai imajinasinya dari emosi atau
perasaan, lalu menuangkannya melalui irama dan pencitraan yang didorong oleh
stimmung dalam dirinya. Demikian pula bagi seorang yang menikmati (karya seni
dan sastra) akan mengurangi bahkan melegakan emosi atau perasaan yang
tertekan. Salah satu ciri sastra hiburan menurut Darma (2004:6), adalah
tokoh-tokoh yang tampan, kaya, dicintai dan dikagumi, serta sanggup mengatasi
segala macam masalah dengan mudah.
2. pembangkit emosi
Drama tragedi dan
komedi menurut Plato (dalam Wellek & Warren, 1995:35), “memupuk dan
menyuburkan emosi yang seharusnya kita matikan”. Pada saat menikmati (karya
seni dan sastra, emosi dan perasaan pembaca atau penonton akan dibangkitkan.
Hal ini terjadi ketika tokoh protagonis atau tokoh antagonis beraksi. Jadi,
dalam menikmati karya seni dan sastra emosi atau perasaan pembaca dibangkitkan
sampai klimaks cerita.
3. pelepasan/katarsis
Setelah klimaks cerita,
tekanan emosi atau perasaan pembaca atau penonton berangsur-angsur dibebaskan
sampai pada akhir cerita, sehingga pembaca atau penonton mengalami kelegaan
atau katarsis.
4. Ajaran
atau penafsiran
Menurut Edgar Alan Poe
(dalam Mariana, 2004:3) dengan menikmati
karya seni dan sastra, pengetahuan seseorang akan bertambah. Melalui
tokoh-tokohnya, seseorang dapat belajar memahami sifat-sifat manusia tanpa
perlu belajar psikologi lebih dahulu secara khusus. Selain itu, seseorang
dapat menambah wawasannya tentang filsafat, karena karya seni atau sastra
yang baik biasanya mengandung nilai-nilai filosofis. Melalui nilai-nilai filosofis
ini seseorang dapat menafsirkan makna kehidupan manusia dan sekitarnya serta
kebenaran yang diungkapkan oleh pengarang.
5. Latihan
mental
Dalam memahami apa yang
ingin disampaikan oleh pengarang diperlukan latihan otak atau latihan mental.
Dengan demikian karya seni dan sastra juga berfungsi sebagai pelatihan mental,
karena akan membuat seseorang bertanya-tanya atau berfikir mengenai maksud
pengarang, kira-kira pesan apa yang ingin disampaikannya dan hikmah apa yang
dapat diambil.
6. Alat
propaganda
Bagi kaum Marxisme yang
berlandaskan ajaran ajaran-ajaran Karl Marx, seni atau sastra mempunyai fungsi
sebagai alat propaganda untuk menyebarkan ide kelas penguasa (Hutomo, 1991:19,
dalam Mariana 2005:4). Artinya, pengarang dengan media karyanya dapat
menyampaikan doktrinnya untuk mempengaruhi seseorang agar setuju dan mau menerimanya.
7. Alat
untuk memperjuangkan kelas
Menurut Hutomo
(1991:19, dalam Mariana, 2005:4) kaum Marxisme menganggap karya seni atau
sastra juga berfungsi sebagai alat untuk memperjuangkan kelas. Pengarang
menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh dalam karyanya berjuang agar taraf hidupnya
meningkat dari kelas bawah menjadi kelas menengah.
8. Alat
proyeksi
Maksudnya, sebuah karya
seni dan sastra dapat memproyeksikan kehidupan seseorang atau masyarakat agar
seseorang dapat menyadari apa yang bisa terjadi dalam kehidupan seseorang atau
masyarakat sesungguhnya.
9. Alat
untuk mendidik anak
Pendapat tersebut
sejalan dengan para sosiolog, seperti Bronislaw Malinowski (Hutomo,
1991:19, dalam Mariana, 2005:4) yang menyatakan bahwa karya seni atau sastra
berfungsi pula untuk mendidik anak. Artinya, dengan belajar melalui karya seni
dan sastra seperti dongeng atau drama lisan, anak dapat belajar etika, moral,
dan agama tanpa merasa dicekoki dengan ajaran-ajaran yang abstrak. Tetapi ada
gambaran yang nyata pada tokoh-tokoh atau pelaku cerita termasuk
perilaku-perilakunya, baik yang jahat maupun yang buruk.
10. Alat
pengesahan budaya
Maksudnya, cerita dalam
karya sastra dapat mengesahkan kebudayaan yang ada. Misalnya cerita tentang
asal usul kata “babah”. Cerita ini sesungguhnya mempunyai tujuan untuk
mengesahkan.
1.6 Metode
penelitian
1.6.1
Pendekatan penelitian
Pendekatan
analisis data dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Penelitian ini
mendeskripsikan atau menjabarkan fungsi-fungsi yang terdapat dalam lagu anak
karya Ibu Sud. Hal inilah yang menjadi alasan dipilihnya pendekatan deskriptif.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini didasarkan pada data yang
digunakan dalam penelitian ini. Data berupa penjabaran dan penjelasan dari
kata-kata yang terdapat dalam lirik lagu anak karya Ibu Sud.
Pendekatan
teori dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan
teori fungsi yang berhubungan dengan social. Hal itu yang menjadi alasan
dipilihnya pendekatan tersebut.
1.6.2
Data dan sumber data
Data dalam
penelitian ini berupa aspek fungsi dalam lagu anak karya Ibu Sud. Aspek fungsi
yang diteliti adalah fungsi hiburan, fungsi pendidikan, fungsi pengesahan
pranata dan lembaga kebudayaan, dan fungsi pengawas norma masyarakat.
Sumber data
dalam penelitian ini adalah teks lagu yang diambil dari CD lagu anak. Teks lagu
yang diteliti adalah lagu anak karya Ibu Sud. Penelitian ini mengambil lima
sampel lagu anak populer karya Ibu Sud.
1.6.3
Teknik pengumpulan data
Penelitian ini
menggunakan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi. Teknik ini digunakan
untuk mendapat data tentang fungsi teks lagu anak karya Ibu Sud. Teknik
dokumentasi dalam penelitian ini menjabarkan lima teks lagu anak populer karya
Ibu Sud.
1.6.4
Teknik Analisis Data
Teknik analisis
data dalam penelitian ini menjabarkan tentang teori fungsi menurut William R.
Bascom dalam lagu anak karya Ibu Sud. Teori fungsi ini membahas tentang fungsi
pendidikan dan fungsi hiburan yang terdapat dalam lima lagu popular karya Ibu
Sud.