Kamis, 29 Agustus 2013

kata motivasi






kita sendiri yang gertakkan kepercayaan diri,
bukan untuk membanggakan diri,
tapi untuk memotivasi diri,
karena bukan dari orang lain kita tangguh,
tapi dari kita sendiri.

Selasa, 27 Agustus 2013

History; Kisah Terindah

Kisah Terindah


     Habiby, panggilan sayang yang aku idamkan.
     Banyak orang di luar sana yang menyepelehkan panggilan istimewa buat pasangannya, padahal hal sepele seperti ini yang menjadi energi positif dalam sebuah hubungan. Bukan hanya sekedar alay, tapi bisa menumbuhkan rasa kesopanan, menunjukkan besarnya rasa sayang dan romantis juga. Jadi tidak ada salahnya kalau kita punya panggilan sayang untuk pasangan kita. Aku bangga dipanggilan habiby/biby oleh ayah (panggilan sayangku pada suami tercinta).
     Kisah ini baru dimulai dan tak akan pernah berakhir. Sayang yang sebenar-benarnya sayang tak akan pernah berakhir sampai di Akhirat nanti. Ketulusan cinta yang tak hanya memberi lukisan manisnya hidup, tapi cinta yang membuka lebarnya jendela kehidupan. Keteduhan cinta dan sayang yang membimbing biby tetap berada di jalan الله. 
     Ayah bukan suami yang menjanjikan kebahagiaan semu. Ayah, suami yang memiliki sosok pemimpin bagi kehidupan biby. Pasangan hidup yang menjadi idaman para wanita sholehah. 
     يا الله, izinkanlah hamba terus mendampingi suami hamba di dunia dan Akhirat. Hamba sandarkan segalanya hanya pada -MU يا الله.

 ( A&H, 2013:2708 )

Kamis, 21 Maret 2013

Pendidikan ; ANALISIS FUNGSI LAGU ANAK KARYA IBU SUD



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Karya sastra merupakan segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
Lagu merupakan bagian dari jenis puisi. Lagu adalah kata-kata atau lirik yang disampaikan lewat harmoni bunyi dan alunan nada yang indah. Menurut KKBI lagu merupakan ragam suara yang berirama yang dapat diartikan bahwa lagu merupakan kumpulan kata yang mempunyai nada serta alunan melodi yang diucapkan dan bahasa sebagai medianya yang mempunyai arti sebagai penyair mudah untuk mengambil makna serta mengekspresikannya. Lagu merupakan bagian dari karya sastra yang memiliki beragam jenis, mulai dari lagu pop, religi sampai dengan lagu anak.  
Lagu Anak-anak adalah lagu yang mempunyai Lirik, Syair atau kata-kata yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak. Menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak. Alasan digunakannya lagu anak-anak dalam penelitian ini karena Lagu merupakan media pembelajaran yang efektif bagi anak dan terdapat banyak pembelajaran yang bisa diambil dari lagu anak-anak.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fungsi William R. Bascom. Menurut William R. Bascom (1965:3-20; Dundes, 1965:290-294) sastra lisan (baca: folklore lisan dan sebagian lisan) mempunyai empat fungsi, yaitu: (a) sebagai sebuah bentuk hiburan, (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan anak dan-anak, dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya. Dalam lagu anak-anak memiliki fungsi hiburan dan pendidikan yang bisa digunakan oleh orang tua sebagai media pembelajaran. Alasan inilah yang mendasari terbentuknya penelitian.
Ibu Sud menciptakan sebuah lagu dengan syair yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam bagi pembelajaran anak. Dengan demikian, anak tidak hanya sekedar menirukan nyanyian tapi juga memahami maknanya. Hal inilah yang menjadi alasan digunakannya lagu anak-anak karya Ibu Sud dalam penelitian ini.
Saridjah Niung Bintang Soedibjo dikenal dengan nama Ibu Soed adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia. Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-kanak Indonesia. Selepas mempelajari seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola hingga mahir dari ayah angkatnya, Saridjah melanjutkan sekolahnya di Hoogere Kweek School (HKS) Bandung untuk memperdalam ilmunya di bidang seni suara dan musik. Setelah tamat, ia kemudian mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Dari sinilah Saridjah mulai mengarang lagu. Pada tahun 1927, ia menjadi istri R. Bintang Soedibjo dan ia pun dikenal dengan panggilan Ibu Soed, singkatan dari Soedibjo.
Tujuan penelitian ini adalah agar orang tua dan guru mengerti tentang fungsi lagu anak-anak yang efektif untuk media pembelajaran. Penelitian ini bermanfaat bagi orang tua dan juga guru dalam memilih lagu anak-anak yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi anak.

1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimana fungsi hiburan dalam lagu anak karya ibu Sud?
2.      Bagaimana fungsi pendidikan dalam lagu anak karya ibu Sud?
3.      Bagaimana fungsi pengesahan pranata dan lembaga budaya dalam lagu anak karya ibu Sud?
4.      Bagaimana fungsi pengawas norma masyarakat dalam lagu anak karya ibu Sud?
1.3  Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah
1.      Mendeskripsikan fungsi hiburan dalam lagu anak karya ibu Sud.
2.      Mendeskripsikan fungsi pendidikan dalam lagu anak karya ibu Sud.
3.      Mendeskripsikan fungsi pengesahan pranata dan lembaga budaya dalam lagu anak karya ibu Sud.
4.      Mendeskripsikan fungsi pengawas norma masyarakat dalam lagu anak karya ibu Sud.

1.4  Manfaat penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai beberapa manfaat bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:
1.      Manfaat teoritis
-          Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kajian ilmu sastra.
-          Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi teori sastra.
2.      Manfaat praktis
-          Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar khususnya bagi guru TK dan umumnya bagi guru bahasa Indonesia.
-          Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk penelitian yang lain serta dapat memusatkan perhatian pada fungsi lagu anak.

1.5 Kajian Teori

1.5.1 Puisi

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika di dalamnya terdapat pendayagunaan berbagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah singkat dan padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang lebih banyak. Pendayagunaan unsur bahasa untuk memperoleh keindahan itu dapat dicapai melalui permainan bunyi yang biasanya berupa berbagai bentuk perulangan untuk memperoleh efek persajakan dan irama yang melodius.  Selain itu, juga dimanfaatkan adanya berbagai sarana retorika yang lain seperti pemilihan ketepatan kata, ungkapan, pemajasan, penyiasatan struktur, dan pencitraan. Keterjalinan secara harmonis di antara berbagai unsur kebahasaan tersebut merupakan cara memperoleh keindahan dalam puisi. Untuk puisi anak, kesederhanaan bahasa haruslah tetap menjadi perhatian tersendiri, dan kadang-kadang keindahan sebuah puisi justru terletak pada kesederhanaannya. Jika dituliskan, puisi memiliki format yang berbeda dengan prosa, dan yang utama adalah barisnya yang relatif pendek-pendek. Format puisi adakalanya juga dipakai untuk memperoleh efek keindahan secara visual.
Puisi adalah sebuah genre kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa bahasa puisi adalah bahasa yang “tersaring” penggunaannya. Artinya, pemilihan bahasa terutama aspek diksi telah melewati seleksi ketat, dipertimbangkan dari berbagai sisi baik yang menyangkut unsur bunyi, bentuk, dan makna yang kesemuanya harus memenuhi persyaratan untuk memperoleh efek keindahan. Puisi merupakan suatu bentuk ekspresi, deskripsi, protes, dan bahkan narasi tentang persoalan kehidupan termasuk keadaan alam.
Menurut pendapat watts-Dunton puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistic dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Sedangkan Lescelles Abercromble  mengatakan puisi merupakan ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa, yang memanfaatkan setiap rencana dengan matang dan tepat guna.
A Richard seorang kritikus sastra yang terkenal menyatakan bahwa suatu puisi mengandung “makna keseluruhan” yang merupakan perpaduan dari tema penyair (mengenai inti pokok puisi itu), persaannya (sikap penyair terhadap bahan atau obyeknya), nadanya dan amanat (maksud atau tujuan penyair) (Morris [et al], 1964:617).Genre puisi anak dapat berwujud puisi-puisi lirik tembang-tembang anak tradisional, lirik tembang-tembang ninabobo, puisi naratif, dan puisi personal. Puisi-puisi yang diucapkan atau dinyanyikan si ibu sewaktu akan menidurkan anak, membujuk anak agar tidak rewel, atau membuat anak senang adalah salah satu jenis dari puisi anak. Puisi atau tembang tersebut tidak diketahui pengarangnya tetapi telah mentradisi dan mewaris secara turun-temurun. Puisi-puisi tersebut sangat mengandalkan repetisi bunyi dan kata untuk memperoleh efek keindahannya.

Unsur-unsur Puisi
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
1.   Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
2.   Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
3.   Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
4.   Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
5.   Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
1.5.2 Lagu anak
Mitchell (2003:147-48) membedakan puisi anak ke dalam puisi naratif, puisi lirik, puisi dengan bentuk khusus, verse bebas, dan puisi konkret. Puisi lirik adalah puisi yang menggambarkan suasana hati, jiwa, perasaan, dan pikiran.  
Lagu anak merupakan bagian dari karya satra yang berbentuk puisi. Lagu anak digolongkan dalam bentuk puisi lirik. Puisi lirik adalah jenis puisi yang paling banyak dijumpai baik dalam puisi anak maupun dewasa. Menurut Mitchell (2003:148) puisi lirik adalah puisi yang membangkitkan emosi, perasaan, atau mood tertentu. Puisi lirik berwujud lontaran jiwa, hati, perasaan, dan pikiran untuk menyikapi sesuatu yang telah menjadi pengalaman emosional penulisnya.
Puisi lirik merupakan puisi curahan jiwa. Lewat puisi lirik penulis berusaha mengekspresikan kejiwaannya untuk berbagi rasa dan pengalaman kepada orang lain agar orang lain dapat juga merasakan apa yang dirasakannya, memperoleh pengalaman emosional sebagaimana yang dialaminya. Puisi lirik mampu membangkitkan perasaan dan suasana tertentu, misalnya suasana kesyahduan, kesenduan, keceriaan, kehangatan, kerinduan, kesedihan, ketidakberdayaan, dan lain-lain yang biasa dialami oleh manusia.
Lagu adalah penyampaian cerita dengan berbagai cara untuk mempengaruhi hati dan pikiran seseorang agar setuju dan hanyut dalam cerita yang disampaikan. Penyampaian cerita tentang perasaan, keadaan atau benda baik yang berwujud atau kasat mata dilakukan dengan menggunakan nada -nada yang membentuk harmonisasi sebagai sarananya. Tujuan dari lagu adalah untuk mempengaruhi seseorang.
Pembawa lagu harus dapat membuat lagu yang dibuat atau dibawakannya dapat mempengaruhi hati dan pikiran seseorang, sehingga orang tersebut tidak sadar telah hanyut dalam lagu tersebut. Lagu adalah kata-kata atau lirik yang disampaikan lewat harmoni bunyi dan alunan nada yang indah .
Lagu Anak-anak adalah lagu yang mempunyai Lirik, Syair atau kata-kata yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak. Menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak. Ketika anak-anak menyanyikan sebuah Lagu harus mengerti apa arti kata yang diucapkannya. Syair Lirik Lagu untuk anak-anak itu biasanya berkisar tentang alam, Flora dan Fauna,  cinta lingkungan, cinta sesame, cinta Tuhannya dan tentang keluarga.

1.5.3        Teori Fungsi
Teori Fungsi khususnya Fungsi Sastra menurut Wellek & Warren (1995: 24-25), dipelopori oleh Edgar Allan Poe dan Horace, seorang pujangga Romawi, didukung oleh Luxemburg (1991) dan Budi Darma (2004). Namun menurut Sudikan (2001:109), Fungsi Sastra khususnya Sastra Lisan di­pelopori oleh para ahli folklor, di antaranya William R. Bascom (1965), Alan Dundes (1965), dan Ruth Finnegan (1977). Masing-masing memiliki pan­dang­an berbeda, karena landasan filosofis dan daya ana­lisis mereka juga ber­beda.
Menurut William R. Bascom (1965:3-20; Dundes, 1965:290-294) sastra lisan (baca: folklore lisan dan sebagian lisan) mempunyai empat fungsi, yaitu: (a) sebagai sebuah bentuk hiburan, (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan anak dan-anak, dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
Menurut Alan Dundes (1965, dalam Sudikan, 2001:109), bebe­rapa fungsi sastra khususnya dalam folklor bersifat umum, yaitu untuk: (1) mem­­­bantu pen­didikan (aiding in the education), (2) meningkat­kan perasaan solida­ritas (pro­moting a feeling of solidarity), (3) mem­beri sangsi sosial (pro­viding socially sanctioned way ), (4) memberi sarana kritik sosial (vehicle for social pro­test), (5) memberi suatu pelarian yang me­nyenangkan (offering an enjoy­able escape), (6) mengubah pekerjaan mem­bosankan menjadi per­mainan (con­vert­ing dull work into playing).
Sedangkan Ruth Finnegan (1977, dalam Sudikan, 2001­:­114), menyata­kan bahwa fungsi sastra khususnya sastra lisan termasuk juga puisi lisan (oral poetry) adalah untuk: mem­per­juangkan kelas (the class struggle).
Beberapa fungsi sastra yang lain, antara lain adalah: (1) fungsi “katarsis” (catharsis) yang disampaikan oleh Aristoteles (dalam Wellek & Warren, 1995: 35) melalui karyanya The Poetics. Istilah katarsis dapat diartikan “pelepasan”, “keterharuan”, maksudnya: membebaskan, meluapkan atau mengekspresikan tekanan emosi pem­baca atau penontonnya, (2) fungsi “propa­ganda” yang di­sampaikan oleh Wellek & Warren (1995:33). Istilah propaganda dapat diartikan “penyebaran doktrin”, artinya: segala macam usaha yang di­lakukan secara sadar atau tidak adalah mempengaruhi pem­baca agar me­nerima sikap hidup tertentu.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut di atas, dapatlah disimpulkan dan di­uraikan bahwa karya seni atau sastra dapat berfungsi antara lain sebagai:
1.      Hiburan
Bagi seorang pengarang (karya seni dan sastra), kegiatan mengarang dapat menjadi sarana hiburan atau mem­bebas­kan diri dari tekan­an emosi. Ribot (dalam Wellek & Warren (1995:96) seorang psikolog Perancis me­nyebut pengarang demikian sebagai sastrawan atau seniman diffluent yaitu me­mulai imaji­nasi­nya dari emosi atau perasaan, lalu me­nuangkannya me­lalui irama dan pen­citraan yang didorong oleh stimmung dalam dirinya. Demi­kian pula bagi seorang yang menikmati (karya seni dan sastra) akan me­­ngurangi bahkan melegakan emosi atau perasaan yang tertekan. Salah satu ciri sastra hiburan menurut Darma (2004:6), adalah tokoh-tokoh yang tampan, kaya, dicintai dan dikagumi, serta sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah.
2.       pembangkit emosi
Drama tragedi dan komedi menurut Plato (dalam Wellek & Warren, 1995­:35), “memupuk dan menyuburkan emosi yang seharusnya kita mati­kan”. Pada saat menikmati (karya seni dan sastra, emosi dan perasaan pem­baca atau pe­nonton akan dibangkitkan. Hal ini terjadi ketika tokoh prota­gonis atau tokoh antagonis beraksi. Jadi, dalam me­nikmati karya seni dan sastra emosi atau perasaan pembaca dibangkitkan sampai klimaks cerita.
3.      pelepasan/katarsis
Setelah klimaks cerita, tekanan emosi atau perasaan pem­baca atau pe­nonton berangsur-angsur dibebaskan sampai pada akhir cerita, sehingga pembaca atau penonton mengalami kelegaan atau katarsis.
4.      Ajaran atau penafsiran
Menurut Edgar Alan Poe (dalam Mariana, 2004:3) dengan  menikmati karya seni dan sastra, penge­tahuan seseorang akan bertambah. Melalui tokoh-tokoh­nya, seseorang dapat belajar memahami sifat-sifat manusia tanpa perlu be­lajar psikologi lebih dahulu secara khusus. Selain itu, seseorang dapat me­­nambah wawasannya tentang filsafat, karena karya seni atau sastra yang baik biasanya mengandung nilai-nilai filosofis. Melalui nilai-nilai filoso­fis ini seseorang dapat menafsirkan makna ke­hidupan manusia dan sekitar­nya serta kebe­naran yang diungkapkan oleh pengarang.
5.      Latihan mental
Dalam memahami apa yang ingin disampaikan oleh pengarang diperlu­kan latihan otak atau latihan mental. Dengan demikian karya seni dan sastra juga ber­fungsi sebagai pelatihan mental, karena akan membuat se­seorang bertanya-tanya atau berfikir mengenai maksud pengarang, kira-kira pesan apa yang ingin disampaikannya dan hikmah apa yang dapat diambil.
6.      Alat propaganda
Bagi kaum Marxisme yang berlandaskan ajaran ajaran-ajaran Karl Marx, seni atau sastra mempunyai fungsi sebagai alat propaganda untuk me­nyebarkan ide kelas penguasa (Hutomo, 1991:19, dalam Mariana 2005:4). Artinya, pengarang dengan media karyanya dapat menyampaikan doktrin­nya untuk mempengaruhi seseorang agar setuju dan mau menerimanya.
7.      Alat untuk memperjuangkan kelas
Menurut Hutomo (1991:19, dalam Mariana, 2005:4) kaum Marxisme meng­­­­anggap karya seni atau sastra juga berfungsi sebagai alat untuk memper­juangkan kelas. Pengarang menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh dalam karyanya berjuang agar taraf hidupnya meningkat dari kelas bawah men­jadi kelas menengah.
8.      Alat proyeksi
Maksudnya, sebuah karya seni dan sastra dapat memproyeksikan kehidup­an seseorang atau masyarakat agar sese­orang dapat menyadari apa yang bisa terjadi dalam kehidupan seseorang atau masyarakat sesungguhnya.
9.      Alat untuk mendidik anak
Pendapat tersebut sejalan dengan para sosiolog, seperti Bronis­law Mali­now­­ski (Hutomo, 1991:19, dalam Mariana, 2005:4) yang me­nyata­kan bahwa karya seni atau sastra berfungsi pula untuk mendidik anak. Artinya, dengan belajar melalui karya seni dan sastra seperti dongeng atau drama lisan, anak dapat belajar etika, moral, dan agama tanpa merasa dicekoki dengan ajaran-ajaran yang abstrak. Tetapi ada gambaran yang nyata pada tokoh-tokoh atau pelaku cerita termasuk perilaku-perilakunya, baik yang jahat mau­pun yang buruk.
10.  Alat pengesahan budaya
Maksudnya, cerita dalam karya sastra dapat mengesahkan kebudayaan yang ada. Misalnya cerita tentang asal usul kata “babah”. Cerita ini se­sungguhnya mempunyai tujuan untuk mengesahkan.
1.6      Metode penelitian
1.6.1        Pendekatan penelitian
Pendekatan analisis data dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Penelitian ini mendeskripsikan atau menjabarkan fungsi-fungsi yang terdapat dalam lagu anak karya Ibu Sud. Hal inilah yang menjadi alasan dipilihnya pendekatan deskriptif.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini didasarkan pada data yang digunakan dalam penelitian ini. Data berupa penjabaran dan penjelasan dari kata-kata yang terdapat dalam lirik lagu anak karya Ibu Sud.
Pendekatan teori dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan teori fungsi yang berhubungan dengan social. Hal itu yang menjadi alasan dipilihnya pendekatan tersebut.

1.6.2        Data dan sumber data
Data dalam penelitian ini berupa aspek fungsi dalam lagu anak karya Ibu Sud. Aspek fungsi yang diteliti adalah fungsi hiburan, fungsi pendidikan, fungsi pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, dan fungsi pengawas norma masyarakat.
Sumber data dalam penelitian ini adalah teks lagu yang diambil dari CD lagu anak. Teks lagu yang diteliti adalah lagu anak karya Ibu Sud. Penelitian ini mengambil lima sampel lagu anak populer karya Ibu Sud.



1.6.3        Teknik pengumpulan data
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk mendapat data tentang fungsi teks lagu anak karya Ibu Sud. Teknik dokumentasi dalam penelitian ini menjabarkan lima teks lagu anak populer karya Ibu Sud.

1.6.4        Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menjabarkan tentang teori fungsi menurut William R. Bascom dalam lagu anak karya Ibu Sud. Teori fungsi ini membahas tentang fungsi pendidikan dan fungsi hiburan yang terdapat dalam lima lagu popular karya Ibu Sud.